Wisata Alam – Taman Nasional Manusela – Provinsi Maluku
Potensi objek wisata
Taman
Nasional Manusela dikenal sebagai objek wisata alam dengan daya tarik
tersendiri dengan pemandangan alam yang indah dan menarik serta
topografi berbukit-bukit di antaranya tepi Markele, lembah Manusela,
tepi Kobipoto, dataran Mual sebelah utara dan lembah Wae Kawa di sebelah
selatan. Atraksi yang bisa dinikmati adalah menjelajah hutan, panjat
tebing, pengamatan satwa/tumbuhan.
Kawasan Taman Nasional Manusela banyak
memiliki keunikan dan kekhasan, seperti lembah Manusela dengan
pemandangan alamnya yang menarik dan keadaan iklimnya yang segar dan
menyenangkan, lembah Piliana yang kaya akan jenis kupu-kupu, Sawai
dengan aneka karang lautnya yang indah sangat cocok untuk kegiatan
snorkeling dan diving disamping itu di daerah Sawai dan sekitarnya juga
dapat dinikmati pemandangan tebing sawai yang indah atau wisata tirta
yang dapat dinikmati dengan menggunakan fasilitas kapal cepat dan
longboat milik Balai Taman Nasional Manusela. Pusat informasi Taman
Nasional Manusela juga terdapat di Negeri Sawai tepatnya di sekitar
Dusun Masihulan. Pengelolaan wisata alam di Sawai dan sekitarnya
melibatkan multipihak seperti LSM (Yayasan Wallacea yang mengelola PRS
Masihulan), Pemerintahan Negeri Sawai sebagai perwakilan Pemerintahan
Daerah Maluku dan pihak masyarakat atau pengusaha yang berperan aktif
dalam mengembangkan kegiatan wisata alam di daerah Sawai dan sekitarnya ,
air panas di Tehoru serta kegiatan safari rusa di padang Pasahari.
Di kawasan Taman Nasional Manusela banyak ditemukan bunga anggrek, bunga bangkai (Rafflesia sp.),
hutan yang khas dan indah, vegetasi alpin dan pakis endemik yang sangat
disukai rusa karena merupakan pakan rusa yang enak. Selain itu, Taman
Nasional Manusela dapat dimanfaatkan sebagai sarana/tempat penelitian
lapangan karena keanekaragaman flora dan fauna langka dan endemik,
penelitian farmasi (jenis tanaman obat-obatan) serta penelitian jenis
tanaman yang merupakan makanan alternatif bagi masyarakat
Selain itu, di luar kawasan Taman
Nasional Manusela pada daerah penyangga pada beberapa objek wisata
seperti penginapan terapung di Teluk Sawai, budi daya mutiara, sumber
air panas (Geiser) di Tehoru, jembatan tali dan menara pengintai secara
alam dan tali-temali hutan di Piliana dan Masihulan, serta wisata budaya
berupa adat istiadat kebudayaan dan upacara suku asli Pulau Seram di
sekitar TNM.
Musim kunjungan terbaik adalah bulan Mei s.d Oktober setiap tahunnya.
Aksesibilitas:
Lokasi TNM dapat dicapai melalui Wahai
dan Saleman dari arah pantai utara atau melalui Tehoru.
Alternatif-alternatif rute perjalanan menuju TNM dapat diuraikan sebagai
berikut:
-
Dari Ambon ke Saleman-Wahai dapat ditempuh dengan menggunakan kapal motor yang memakan waktu 24 jam. Kapal motor ini memiliki jadwal perjalanan 3 kali seminggu. Perjalanan dari Wahai ke lokasi taman nasional dapat ditempuh dengan jalan kaki
-
Lewat pantai selatan, TNM ditempuh melalui kota Ambon ke Tehoru-Saunulu-Mosso dengan kapal motor yang memakan waktu 9 jam. Jadwal kapal motor berjalan adalah 4 kali dalam seminggu. Perjalanan selanjutnya ke lokasi taman nasional hanya dapat ditempuh dengan jalan kaki.
-
Perjalanan lewat darat dapat dilakukan dari Ambon ke Tulehu dengan waktu tempuh 45 menit. Selanjutnya dari Tulehu ke Amahai dapat dicapai dengan long boat cepat yang memerlukan waktu 1 jam 45 menit. Perjalanan dari Amahai ke Tehoru dilakukan lewat jalan darat selama 3 jam selanjutnya diteruskan dengan speed boat ke Saunulu/Mosso selam 30-60 menit. Pengunjung dapat pula memilih rute perjalanan darat menuju taman nasional bagian utara. Rute ini ditempuh dari Amahai ke Saleman melewati Masohi yang membutuhkan waktu 3 jam dilanjutkan dengan speed boat menuju Wahai yang memakan waktu 2 jam.
-
Perjalanan memasuki TNM dari Saunulu/Mosso dilakukan dengan jalan kaki melalui jalan setapak dan mendaki tebing-tebing pegunungan sehingga pemandu dan pembawa barang sangat diperlukan.
-
Dari sisi utara, kawasan TNM dapat ditempuh melalui jalan trans-Seram dari Wahai ke Sasarata. Rute ini dapat dilalui roda empat. Selanjutnya dari Sasarata menuju kawasan taman nasional bagian tengah/selatan dapat ditempuh dengan jalan kaki menuju jalan setapak yang menghubungkan Kaloa-Hatuolo Maraina, dan Manusela. Perjalanan ini memerlukan waktu kurang lebih 2 hari.
-
Apabila pengunjung membawa kendaraan roda empat, perjalanan dilakukan dari Ambon ke Liang dengan waktu tempuh ± 1,5 jam. Selanjutnya dari Liang ke Kairatu ditempuh selama ± 2 jam dengan menggunakan ferry. Dari Kairatu ke Saka ditempuh dengan jalan darat selama ± 3,5 jam.
-
Rute terbaru untuk menuju Taman Nasional bagian utara yaitu dari Ambon bisa langsung menggunakan pesawat Merpati jenis twin otter Menuju ke Wahai, dari Wahai ke Sasarata dan selanjutnya perjalanan dilakukan dengan jalan kaki menuju kawasan
[dephut.go.id]
Taman
Nasional Manusela merupakan kawasan konservasi dengan luas 189.000 Ha,
dan merupakan taman nasional tipe B . Kawasan ini merupakan gabungan
dari 2 cagar alam yaitu Cagar Alam Wae Nua dan Cagar Alam Wae Mual dan
ditambah dengan perluasan wilayah Cagar Alam Wae Nua dan Cagar Alam Wae
Mual. Secara administratif kawasan TNM termasuk di wilayah Kecamatan
Seram Utara yang berkedudukan di Wahai dan Kecamatan Seram Selatan di
Tehoru, Kabupaten Maluku Tengah, Propinsi Maluku.
Taman Nasional Manusela secara ekologis
memiliki tujuh tipe vegetasi, yaitu berturut-turut dari pantai ke puncak
gunung Binaya adalah sebagai berikut : Hutan mangrove (mangrove formation) ,Vegetasi pantai ( beach formation) ,Hutan rawa dataran rendah (lowland swamp forest) ,Vegetasi tebing sungai (riverbank vegetation) ,Hutan hujan dataran rendah (lowland rain forest) ,Hutan hujan pegunungan (mountain rain forest) ,Hutan lumut (alpine/moss forest)
Potensi Flora
Kekayaan flora yang dimiliki TNM berupa 187 jenis/genus dari 55 famili diantaranya 97 jenis anggrek dan 598 jenis paku-pakuan (pakis), dimana terdapat jenis endemik paku binaya (Cyathea binayana).
Jenis vegetasi yang ada di TNM mPapua. Jenis flora zona Australia yang terdapat dalam kawasan ini antara lain Eucalyptus spp., sedangkan jenis flora khas Asia meliputi Shorea selanica (Dipterocarpacea) yaitu jenis meranti yang pertumbuhannya paling timur Indonesia, nyamplung (Calophyllum inophyllum), langsat hutan (Aglaia argentea), durian (Durio spp.) dan lain-lain.
Kekayaan flora yang dimiliki TNM berupa 187 jenis/genus dari 55 famili diantaranya 97 jenis anggrek dan 598 jenis paku-pakuan (pakis), dimana terdapat jenis endemik paku binaya (Cyathea binayana).
Jenis vegetasi yang ada di TNM mPapua. Jenis flora zona Australia yang terdapat dalam kawasan ini antara lain Eucalyptus spp., sedangkan jenis flora khas Asia meliputi Shorea selanica (Dipterocarpacea) yaitu jenis meranti yang pertumbuhannya paling timur Indonesia, nyamplung (Calophyllum inophyllum), langsat hutan (Aglaia argentea), durian (Durio spp.) dan lain-lain.
Jenis-jenis vegetasi yang ada di TNM terdiri merupakan keturunan flora Asia/Sulawesi yang mempunyai beberapa unsur Australia-dari hutan mangrove dan hutan pantai (0-5 m dpl), hutan dataran rendah (5-100 m dpl), hutan hujan primer dataran rendah (100-500 m dpl), hutan hujan primer pegunungan (500-2.500 m dpl), lumut (2.500-2.600 m dpl).
Vegetasi hutan mangrove ditandai oleh jenis pedada (Sonneratia alba), bakau (Rhizophora apiculata), bidu (Bruguiera sexangula), api-api (Avicennia officianalis) dan nipah (Nypa fruticans). Vegetasi ini letaknya tepat di belakang pantai berpasir yang agak tinggi dan merupakan jalur sempit. Perkembangan terbaiknya berada di sekitar tanjung Wae Mual dan sungai Wae Isal. Dibelakang jalur mangrove pada rawa dataran rendah terdapat jenis-jenis butun darat (Barringtonia recemosa), beringin (Ficus nodosa) dan pulai (Alstonia scholaris).
Perkembangan terbaik vegetasi hutan pantai di sepanjang pantai bagian utara dengan jenis-jenis yang mendominir antara lain tapak kuda/katang-katang (Ipomoea pescaprae), rumput jara-jara (Spinifex littoralis), ketapang (Terminalia catappa), pandan (Pandanus sp.), dan cemara laut (Casuariana equisetifolia).
Potensi Fauna
Pulau
Seram hanya memiliki delapan jenis mamalia terestrial yang asli Seram
terdiri dari tiga jenis Marsupial, yaitu bandicoot/mapea (Rhyncomeles prattorum), Kusu/Kuskus (Spilocuscus maculatus dan Phalanger orientalis) dan lima jenis Rodensia, yaitu Melomys aerosus, Melomys fulgens, Melomys fraterculus, Rattus ceramicus dan Rattus feliceus.
Di Taman Nasional Manusela dapat dijumpai jenis mamalia yang lebih besar seperti Rusa (Cervus timorensis), babi hutan (Sus scrofa dan S. Celebebsis), anjing liar (Canis familiar), kucing liar (Felis catus) dan musang (Paradoxurus hermaphroditus, Vivera tangulunga).
Ada 26 jenis kelelawar di kawasan Taman Nasional Manusela antara lain Rousettus amplixicaudus, Pteropus melaopogon, Pteropus ocularis dan Macroglossus minimus (Macdenald et al., 1993).
Penelitian
tentang burung di pulau Seram sudah dimulai sejak abad 17. Bowler dan
Taylor (1993) menguraikan dengan jelas perkembangan penelitian tersebut.
Pada saat ini kekayaan jenis burung Seram sudah diketahui sebanyak 196
species burung, 124 spesies diantaranya merupakan jenis menetap
sedangkan 72 spesies adalah jenis burung migran. Sebanyak 13 jenis
diantaranya merupakan jenis endemik Seram
Birdlife International Indonesia
Programme telah menetapkan Daerah Burung Endemik (DBE) Seram yang
mencakup pulau Seram dan pulau-pulau kecil di sekitarnya (Ambon,
Saparua, Boano, dan Haruku). 30 Jenis merupakan burung dengan sebaran
terbatas, yakni burung yang penyebaran berbiaknya kurang dari 50.000
km², 14 diantaranya endemik (Sujatnika et al., 1995). Jenis burung
sebaran terbatas di pulau Seram ada 28 jenis, dimana 8 jenis diantaranya
adalah jenis burung endemik. Kasturi tengkuk ungu (Lorius domicella) dan Kakatua Maluku (Cacatua moluccensis)
kondisinya sekarang terancam punah, karena adanya penangkapan untuk
diperdagangkan (Shannaz et al., 1995). selain dua jenis di atas,
terdapat jenis burung endemik lain seperti Diacrum vulneratum, raja
udang (Halycon lazuli, H.sancta dan Alcedo atthis), Nuri Raja/Nuri Ambon (Alisterus amboinensis), Nuri Kepala Hitam (Lorius domicella), burung madu besar (Philemon subcorniculatus), serta Kasuari (Casuarius casuarius) .
Studi tentang reptilia di pulau Seram
masih jarang. Penelitian yang dilakukan pada Ekspedisi Operation Raleigh
di kawasan Taman Nasional Manusela menemukan 46 jenis reptilia, terdiri
dari kura-kura air tawar (1 jenis), penyu laut (4 jenis), buaya (1
jenis), kadal (24 jenis) dan ular (17 jenis) (Edgar dan Lilley, 1993).
Tingkat endemisme reptil di pulau Seram
termasuk rendah, hanya satu jenis kadal endemik Seram, yaitu Dibamus
seramensis. Terdapat pula Soa-soa (Hydrosaurus amboinensis), Dua jenis ular Calamaria ceramensis dan Thyphlops kraai walaupun sedikit ditemukan juga di pulau-pulau sekitarnya. Buaya (Crocodylus porousus) sering dijumpai di sungai Wae Toluarang dan Wae Mual.
Dalam kawasan Taman Nasional Manusela
terdapat 8 jenis amphibia yang tergolong dalam famili Ranidae, Hylidae
dan Microhylidae. Jenis-jenis yang termasuk dalam famili :
-
Ranidae adalah Platymantis papuensis, Rana modesta dan Rana grisea ceramensis
-
Hylidae adalah Litoria vagabunda, Litoria sp. (Bicolor group), Litoria amboinesis, Litoria infrafenate
-
Microhylidae adalah Phrynomantis fusca
Jenis kupu-kupu yang terdapat dalam Taman Nasional Manusela diperkirakan sebanyak 90 jenis (FAO, 1981), antara lain famili :
-
Papilionidae yaitu Ornithoptera priamus, Ornithoptera goliathorocus, Papilio ulysses, Papilio fuscusfuscus, Grafthium stresemani.
-
Pieridae yaitu Si cantik Delias manuselensis, Delias sp., Hebomoia leucippe leucippe, Valeria jobaea eisa, Enaema candida candida.
-
Danidae yaitu Idea idea, Danaus chovsippus, Danaus hanata nigra, Eupolea ciimena melina, Eupolea sp.
Ada beberapa jenis kupu-kupu endemik Seram yaitu Epimastidia staudingeri dan Hypochrysops dolechallii
Potensi biota perairan baik di sungai
maupun di air laut belum dilakukan penelitian secara mendetail, walaupun
secara umum dapat dikatakan bahwa di sepanjang pantai utara antara
Sasarata sampai dengan Pasahari maupun di Tanjung Sawai memiliki potensi
yang sangat baik.
Kondisi Topografi
Kawasan Taman Nasional Manusela yang
mencakup 20% dari keseluruhan luas pulau Seram, keadaan topografinya
sebagian besar bergelombang dan lahannya merupakan pegunungan kapur.
Topografi yang ada ini mulai dari dataran(dataran Mual) di bagian utara,
bergelombang sedang- berbukit sampai bergunung-gunung dengan ketinggian
0 – 3027 meter di atas permukaan laut.
Kemiringan berkisar antara 30 – 60 %
mulai dari gunung Markele sampai gunung Binaya yang merupakan puncak
tertinggi. Sebagian besar kawasan ini memiliki kelerengan yang sangat
terjal dengan lembah-lembah yang dalam. Bagian yang relatif landai
terletak di bagian utara sekitar Wahai dan Sasarata serta bagian selatan
di daerah Hatumete, Hatu dan Woke.
Berdasarkan ketinggian tempat di atas
permukaan laut, kawasan Taman Nasional Manusela dapat dibedakan menjadi
empat kategori, yaitu:
a. Dataran rendah di bawah ketinggian 500 meter dpl
b. Dataran tinggi antara 500 – 1500 meter dpl
c. Daerah pegunungan dengan ketinggian antara 1500-2500 meter dpl
d. Zona sub alpin dengan ketinggian antara 2500 – 3027 meter dpl







0 komentar:
Posting Komentar